Teori Belajar Ausubel
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Peningkatan
mutu pendidikan tidak lepas dari berbagai upaya perbaikan yang bertujuan untuk
mengembangkan potensi siswa dalam memaksimalkan proses belajar mengajar, sehingga dihasilkan manusia yang cerdas, mandiri dan berdaya saing.
Dalam proses
belajar mengajar banyak sekali permasalahan yang guru maupun siswa alami,
permasalahan dari guru diantaranya dalam penyajian materi pelajaran kimia
selalu menggunakan metode ceramah sehingga kurang menarik dan membosankan bagi
siswa. Hal ini menyebabkan siswa cenderung pasif dalam kegiatan belajar
mengajar. Sesuai dengan tuntutan profesionalisme guru, maka seorang guru harus
memiliki kemampuan dalam mengembangkan metode mengajarnya sedemikian rupa
sehingga mampu mengeksplorasi keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar.
Sementara itu permasalahan dari siswa terletak pada kecenderungan siswa yang
pasif dalam kegiatan pembelajaran. Kebanyakan siswa menganggap mata pelajaran
kimia sulit terutama dalam menyelesaikan soal hitungan yang membutuhkan
pemahaman konsep.
Salah satu cara untuk
memecahkan masalah-masalah dalam pembelajaran yaitu dengan menggunakan teori.
Menurut Snelbecker (1974) dalam Dahar (1989), perumusan teori itu bukan hanya
penting, melainkan vital bagi psikologi dan pendidikan, untuk dapat maju atau
berkembang, dan memecahkan masalah-
masalah
yang ditemukan dalam setiap bidang itu. Salah satu teori
belajar yang dapat digunakan yaitu teori belajar David Ausubel.
Berdasarkan
informasi diatas, maka pada makalah ini akan dibahas mengenai konsep belajar dan teori belajar Ausubel dalam materi larutan elektrolit
dan nonelektrolit.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi
rumusan masalah adalah :
1. Apa
pengertian belajar menurut Ausubel?
2. Bagaimana teori pengajaran menurut Ausubel?
3. Bagaimana
prinsip dan karakteristik belajar menurut Ausubel?
4. Bagaimana
langkah-langkah pembelajaran menurut
Ausubel?
5. Apasajakah faktor-faktor yang mempengaruhi belajar
menurut Ausubel?
6. Apa
kelebihan dan kekurangan teori
belajar Ausubel?
7. Bagaimana
aplikasi teori belajar Ausubel dalam pembelajaran kimia
mengenai materi larutan elektrolit dan non elektrolit ?
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka
tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1.
Untuk mengetahui pengertian
belajar menurut Ausubel.
2.
Untuk mengetahui teori pengajaran menurut Ausubel.
3.
Untuk mengetahui prinsip dan karakteristik belajar menurut Ausubel.
4.
Untuk mengetahui langkah-langkah pembelajaran menurut Ausubel.
5.
Untuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi
belajar mennurut Ausubel.
6.
Untuk mengetahui kelebihan dan kekuranganteori Ausubel.
7. Untuk mengetahui aplikasi teori belajar Ausubel dalam pembelajaran kimia khususnya dalam materi larutan elektrolit dan
nonelektrolit.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian
Belajar Menurut Ausubel
David Ausubel
adalah seoerang ahli psikologi pendidikan. Teori belajar Ausubel dikenal dengan nama Teori
Belajar Bermakna. Menurut
Ausubel belajar dapat
diklassifikassikan kedalam dua dimensi. Dimensi pertama berhubungan
dengan cara informasi atau materi disajikan pada siswa, melalui penemuan dan
penerimaan. Dimensi kedua berkaitan dengan bagaimana cara siswa dapat
mengaitkan informasi atau materi pelajaran pada struktur kognitif yang telah
dimilikinya. Struktur
kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi yang
telah dipelajari dan diingat oleh siswa..
Pada tingkat
pertama dalam belajar, informasi dapat dikomunikasikan pada siswa baik dalam
bentuk belajar penerimaan yang menyajikan informasi itu dalam bentuk final,
maupaun dengan bentuk belajar penemuan yang mengharuskan siswa untuk menemukan
sendiri sebagian atau seluruh materi yang akan diajarkan. Pada tingkat kedua,
siswa menghubungkan atau mengaitkan informasi itu pada pengetahuan (berupa
konsep-konsep atau lain-lain) yang telah dimilikinya, dalam hal ini terjadi belajar bermakna. Akan tetapi, siswa itu dapat juga hanya mencoba-coba menghafalkan
informasi baru itu, tanpa menghubungkan pada konsep-konsep yang telah ada dalam
struktur kognitifnya; dalam hal ini terjadi belajar hafalan.
Ausubel
menyatakan, bahwa banyak ahli pendidikan menyamakan belajar penerimaan dengan
belajar hafalan, sebab mereka berpendapat bahwa belajar bermakna hanya terjadi
bila siswa menemukan sendiri pengetahuan. Maka, belajar penerimaan pun dibuat
bermakna, yaitu dengan cara menjelaskan hubungan antara konsep-konsep.
Sedangkan belajar penemuan rendah kebermaknaannya, dan merupakan belajar
hafalan, yakni memecahkan suatu masalah hanya dengan coba-coba seperti menebak
suatu teka-teki. Belajar penemuan yang bermakna sekali hanyalah terjadi pada
penelitian yang bersifat ilmiah.
2.2 Prinsip dan Karakteristik belajar Menurut Ausubel
1.
Belajar
Bermakna
Inti
dari teori Ausubel tentang belajar ialah belajar bermakna (Ausubel, 1968). Menurut Ausubel bahan subyek yang dipelajari siswa haruslah “bermakna”
(meaningfull). belajar bermakna merupakan suatu proses
mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam
struktur kognitif seseorang.
pembelajaran bermakna adalah suatu proses pembelajaran
dimana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah
dimiliki seseorang yang sedang melalui pembelajaran. Pembelajaran bermakna
terjadi apabila siswa boleh menghubungkan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan
mereka. Artinya, bahan subjek itu mesti sesuai dengan keterampilan siswa dan
mesti relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa. Oleh karena itu,
subjek mesti dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah dimiliki para siswa,
sehingga konsep-konsep tersebut benar-benar terserap olehnya.
informasi
disimpan di daerah-daerah tertentu dalam otak. Banyak sel otak terlibat dalam
penyimpanan pengetahuan itu. Dengan berlangsungnya belajar, dihasilkan perubahan-perubahan
dalam sel-sel otak, terutama sel-sel yang telah menyimpan informasi yang mirip
dengan informasi yang sedang dipelajari.
Jadi,
dalam belajar bermakna informasi baru diasimilasikan pada subsumer-subsumer relevan yang
telah ada dalam struktur kognitif. Belajar bermakna yang baru berakibatkan perubahan
dan modifikasi subsume-subsumer yang telah ada itu. Tergantung pada sejarah
pengalaman seseorang, maka subsumer itu dapat relatif besar dan berkembang.
2.
Belajar
Hafalan
Bila
dalam struktur kognitif seseorang tidak terdapat konsep-konsep yang relevan,
maka yang baru dipelajari secara hapalan. Bila tidak terjadi usaha
mengasimilasikan pengetahuan yang baru pada konsep-konsep relevan yang sudah
ada dalam struktur kognitif, akan terjadi belajar hapalan. Pada kenyataanya,
banyak guru dan bahan-bahan pelajaran jarang sekali menolong siswa untuk
menentukan dan menggunakan konsep-konsep relevan dalam struktur kognitif mereka
untuk mengassimilasikan pengetahuan baru dan akibatnya pada para siswa
terjadi belajar hafalan.
Kerap
kali siswa-siswa diminta untuk mengemukakan prinsip-prinsip yang sebenarnya
tidak mereka mengerti apa yang mereka katakana. Suatu contoh, bahwa memang
belajar hafalan yang terjadi pada anak-anak diberikan dalam buku William James
yang berjudul Talks to Teachers.
2.3 Langkah-Langkah
Pembelajaran Menurut Ausubel
Sebelum
dimulainya suatu proses belajar, maka penting untuk memperhatikan apa-apa saja
yang telah diketahui siswa, sebab ini merupakan faktor dalam mempengaruhi
keberhasilan belajar. Untuk itu perlu dibuat langkah-langkah pembelajaran agar
tidak terjadi kerancuan dalam kegiatan belajar. Terdapat 8 langkah pembelajaran
yang bisa dilakukan dalam menerapkan teori belajar bermakna Ausubel, yaitu :
1)
Menentukan tujuan pembelajaran
2)
Mengukur kesiapan siswa
3)
Memilih materi pembelajaran dan mengatur dalam
penyajian konsep
4)
Mengidentifikasi prinsip-prinsip yang harus dikuasai
peserta didik dari materi pembelajaran
5)
Menyajikan suatu pandangan secara menyeluruh tentang
apa yang seharusnya dipelajari
6)
Menggunakan “advance organizer” dengan cara
memberikan rangkuman dilanjutkan dengan keterkaitan antara materi.
7)
Mengajar siswa dengan pemahaman konsep
8)
Mengevaluasi hasil belajar.
Ausubel
mengatakan “ faktor yang paling penting mempengaruhi siswa belajar adalah apa
yang telah diketahui oleh siswa. Yakinilah ini dan ajarlah dia demikian”.
Pernyataan
Ausubel tersebutlah yang menjadi inti teori belajarnya. Jadi, agar terjadi
belajar bermakna, konsep baru atau informasi baru harus dikaitkan dengan
konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitif siswa.
Untuk
menerapkan teori Ausubel dalam mengajar, ada beberapa prinsip-prinsip dan
konsep-konsep yang perlu kita perhatikan untuk menerapkan teori Ausubel dalam
mengajar, yaitu :
a. Pengatur
awal
Pengatur
awal mengarahkan para siswa ke materi yang akan mereka pelajari, dan menolong
mereka untuk mengingat kembali informasi yang berhubungan yang dapat digunakan
untuk membantu menanamkan pengetahuan baru. Suatu pengatur awal dapat dianggap
sebagai pertolongan mental dan disajikan sebelum materi baru.
b. Diferensiasi
Progresif
Selama
belajar bermakna berlangsung, perlu terjadi pengembangan dan elaborasi konsep.
Pengembangan konsep berlangsung paling baik,bila unsur-unsur yang paling umum
diperkenalkan terlebih dulu, baru kemudian hal-hal yang lebih khusus dan detail
dari konsep tersebut.
c. Belajar
Superordinat
Belajar
superordinat terjadi, bila konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya
dikenal sebagai unsur-unsur dari suatu onsep yang lebih luas, lebih inklusif.
d. Penyesuaian
integratif
Dalam
mengajar, bukan hanya urutan menurut diferensiasi progresif yang diperhatikan,
melainkan juga harus diperlihatkan bagaimana konsep-konsep baru dihubungkan
pada konsep-konsep superordinat. Kita harus memperlihatkan secara eksplisit
bagaimana arti-arti baru dihubungkan dan dipertentangkan dengan arti-arti
sebelumnya yang lebih sempit dan bagaimana konsep-konsep yang tingkatnya lebih
tinggi sekarang mengambil arti baru.
2.4 Faktor -
faktor yang Mempengaruhi Belajar Bermakna
Faktor-faktor
utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel (1963), ialah struktur
kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang
studi tertentu dan pada waktu tertentu. Sifat-sifat struktur kognitif
menentukan validitas dan kejelasan arti-arti yang timbul waktu informasi baru
masuk ke dalam struktur kognitif itu; demiklian pula sifat proses interaksi yang
terjadi. Jika struktur kognitif itu
stabil, jelas, dan diatur dengan baik, maka arti-arti yang sahih dan jelas atau
tidak meragukan akan timbul, dan cenderung bertahan. Tetapi sebaliknya, jika
struktur kognitif itu tidak stabil, meragukan, dan tidak teratur, maka struktur
kognitif itu cenderung menghambat belajar dan retensi.
Tujuan siswa
merupakan faktor utama dalam belajar bermakna. Banyak siswa mengikuti pelejarn
– pelajaran yang kelihatannya tidak relevan dengan kebutuhan mereka pada saat
itu. Dalam pelajaran – pelajaran demikian materi pelajaran dipelajari secara
hafalan.para siswa kelihatannya dapat memberikan jawaban yang benar tanpa
menghubungkan materi itu pada aspek – aspek lain dalam struktur kognitif
mereka.
Kebermaknaan
materi pelajaran secara potensial tergantung pada dua faktor :
1. Materi itu
harus memiliki kebermaknaan logis
2. Gagasan yang
relevan harus terdapat dalam struktur kognitif siswa.
kebermaknaan
potensial adalah bahwa dalam struktur kognitif siswa harus ada gagasan yang
relevan. Dalam hal ini kita harus memperhatikan pengalaman anak-anak, tingkat
perkembangan mereka, intelegensi mereka, dan usia.isi pelajaran harus
dipelajari secara hafalan, bila anak – anak itu tidak mempunyai pengalaman yang
diperlukan mereka untuk mengatkan atau menghubungkan isi pelajaran itu.
Oleh karena
itu, agar terjadi belajar bermakna materi pelajaran harus bermakna secara
logis, siswa harus bertujuan untuk memasukkan materi itu kedalam struktur
kognitifnya, dan dalam struktur kognitif anak harus terdapat unsure – unsure
yang cocok untuk mengaitkan atau menghubungkan materi baru secara nonarbitrer
dan substantif. Jika salah satu komponen ini tidak ada maka materi itu walaupun
dipelajari akan dipelajari secara hafalan.
2.5 Kelebihan dan
Kekurangan Teori
Pembelajaran Ausubel
Menurut Ausubel dan juga Novak (1997), ada tiga
kebaikan dari belajar bermakna,yaitu:
1.
Informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama
dapat diingat.
2.
Informasi yang tersubsumsi berakibatkan peningkatan
diferensiasi dari subsumer-subsumer, jadi memudahkan proses belajar berikutnya
untuk materi pelajaran yang mirip.
3.
Informasi yang dilupakan sesudah subsumsi obliteratif,
meninggalkan efek residual pada subsume, sehingga mempermudah belajar hal-hal
yang mirip, walaupun telah terjadi “lupa”.
Adapun kekurangan Teori belajar Ausubel yaitu :
1.
Informasi yang dipelajari secara hafalan tidak lama
diingat.
2.
Jika peserta didik berkeinginan untuk mempelajari
sesuatu tanpa mengaitkan hal yang satu dengan hal yang lain yang sudah
diketahuinya maka baik proses maupun hasil pembelajarannya dapat dinyatakan
sebagai hafalan dan tidak akan bermakna sama sekali baginya.
2.6 Aplikasi Teori Belajar Ausubel dalam
Pembelajaran Kimia
Berikut ini merupakan aplikasi teori belajar Ausubel dalam pembelajaran kimia kelas X yaitu pada KD 3.8 “Menganalisis
sifat larutan elektrolit dan larutan
non-elektrolit berdasarkan daya hantar
listriknya”.
|
APLIKASI
TEORI BELAJAR AUSUBEL
KD : 3.8 Menganalisis sifat larutan elektrolit dan larutan non-elektrolit berdasarkan daya hantar listriknya.
Kelas : X (sepuluh)
Pokok Bahasan :
Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit
Sub Pokok Bahasan : Peranan ion dalam menghantar
arus listrik; senyawa ion, kovalen, dan kovalen polar; cirri dan
contoh larutan elektrolit dan nonelektrolit
Buku sumber : Buku kimia kelas X, Parning
dan Horale, Yudhistira, 2006 - Buku kimia kelas X, Unggul Sudarno, Phibeta,
2006 - Buku kimia kelas X, Ganeca Excat Bandung, 2006
|
||||||||
DAFTAR PUSTAKA
Paul Suparno. 1997. Filsafat
Kontruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.
Ratna Wilis Dahar. 1996. Teori – Teori Belajar.
Jakarta : Erlangga.
Soemanto Wasty.1998.Psikologi
Pendidikan.Jakarta:Rineka
Cipta